5/10/14

Analisis Film "Black gold - Day of Falcoon"

Dalam film black gold dikisahkan antara dua suku arab yakni Hobeika dan Emir Salmaah yang pada masa itu menguasai sebagian besar wilayah jazirah arab melakukan perjanjian untuk tidak mengklaim wilayah padang pasir luas yang telah lama mereka rebutkan untuk memperluas kekuasaan mereka. Namun, perjanjian tersebut diingkari oleh Hobeika yang telah terpengaruh oleh provokasi seorang ahli minyak dari texas oil sehingga muncullah keserakahan Hobeika untuk menguasai seluruh wilayah-wilayah perjanjian yang mengandung minyak terbaik di dunia. Pada akhirnya pecahlah peperangan karena Emir Salmaah yang menganggap segala sesuatu modern merupakan hal yang fasik merasa dikhianati oleh perjanjian mereka hingga melibatkan bukan hanya kedua suku, tetapi sebagian besar suku arab turut serta menyerang Hobeika untuk merebut sebuah wilayah padang pasir yang tandus tanpa kehidupan bernama Yellow Belt (Koridor Kuning).
Keberadaan minyak pada dimana pada masa tersebut minyak dikuasai oleh suku Hobeika membuat standar hidup masyarakat masyarakat suku Hobeika meningkat drastis. Dimana pertumbuhan ekonomi berkembang pesat dengan mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit hingga Emir Nesib mendirikan perpustakaan khusus untuk Auda (putra dari Amar pemimpin suku Salmaah yang sejak umur belasan tahun menjadi tawanan Emir Nesib). Kehidupan rakyat suku Hobeika sangat makmur karena mereka memiliki banyak teknologi maju, mulai dari mobil, pesawat, hingga perlengkapan perang untuk menjaga koridor kuning agar tidak direbut suku lain. Disaat suku-suku lain masih menjadi budak dan kehidupan serba kekurangan, suku hobeika sudah memiliki penerangan dari tenaga listrik. Itu semua adalah hasil dari minyak mentah yang selama ini dikuasai oleh hobeika dan juga bantuan dari para kapitalis amerika yang mulai mengeksploitasi minyak di arab saudi. Disisi lain situasi ini sangat berbanding terbalik dengan sebagian suku di arab yang hidup serba kekurangan ditengah tandusnya gurun pasir, disamping itu suku-suku arab terutama Salmaah memandang Al-Qur’an sebagai pandangan hidup dan menafsirkannya dengan tradisional dan terlalu dangkal, hal ini membuat Salmaah memandang hal modern merupakan sesuatu yang fasik.
Kondisi politik pada masa tersebut masih sangat tradisional dengan memikirkan kemakmuran antar suku dan cara satu-satunya untuk bertahan hidup adalah berperang. Dalam hal ini saya lebih menyoroti politik Emir Nesib dimana dengan kedatangan para provokator dari texas oil membuat Emir Nesib memiliki akal licik dengan mengingkari perjanjian yang telah disepakati dengan suku Salmaah mengenai koridor kuning. Emir sangat pandai bermain politik, untuk memperbesar ‘power’ agar Amar tidak dapat melawannya, Emir Nesib mengundang seluruh suku di Arab untuk dijamu dan menjadikan mereka semua saudara dengan menjanjikan keuntungan minyak bagi semua sehingga ketika Amar menyerang Hobeika Emir berharap seluruh suku dapat membantunya melawan Amar. Emir nesib, benar-benar menjadi seorang raja. Selain itu untuk menjaga stabilitas keamanan sukunya dan koridor kuning agar tidak dijarah oleh suku lain, Emir membangun bala tentaranya lengkap dengan angkatan udara serta hegemoni terhadap suku-suku di daerah tersebut berjalan sangat lancar tanpa ada kendala karena uang yang dimilikinya. Dengan semakin luasnya jaringan antar suku dan besarnya persenjataan milik Hobeika Emir berfikir jika Salmaah akan lebih memilih jalan perdamaian dalam memperebutkan koridor kuning. Pada masa itu, minyak sangat mempengaruhi kondisi politik yang ada dimana suku Hobeika mendominasi keberadaan minyak agar dapat di eksploitasi sebesar-besarnya dan memberikan jatah kepada suku lain untuk menjaga stabilitas keamanan semata.


No comments:

Post a Comment