Dalam film black
gold dikisahkan antara dua suku arab yakni Hobeika dan Emir Salmaah yang
pada masa itu menguasai sebagian besar wilayah jazirah arab melakukan
perjanjian untuk tidak mengklaim wilayah padang pasir luas yang telah lama
mereka rebutkan untuk memperluas kekuasaan mereka. Namun, perjanjian tersebut
diingkari oleh Hobeika yang telah terpengaruh oleh provokasi seorang ahli
minyak dari texas oil sehingga muncullah keserakahan Hobeika untuk menguasai
seluruh wilayah-wilayah perjanjian yang mengandung minyak terbaik di dunia. Pada
akhirnya pecahlah peperangan karena Emir Salmaah yang menganggap segala sesuatu
modern merupakan hal yang fasik merasa dikhianati oleh perjanjian mereka hingga
melibatkan bukan hanya kedua suku, tetapi sebagian besar suku arab turut serta
menyerang Hobeika untuk merebut sebuah wilayah padang pasir yang tandus tanpa
kehidupan bernama Yellow Belt
(Koridor Kuning).
Keberadaan minyak pada dimana pada masa tersebut
minyak dikuasai oleh suku Hobeika membuat standar hidup masyarakat masyarakat
suku Hobeika meningkat drastis. Dimana pertumbuhan ekonomi berkembang pesat
dengan mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit hingga Emir Nesib mendirikan
perpustakaan khusus untuk Auda (putra dari Amar pemimpin suku Salmaah yang
sejak umur belasan tahun menjadi tawanan Emir Nesib). Kehidupan rakyat suku
Hobeika sangat makmur karena mereka memiliki banyak teknologi maju, mulai dari
mobil, pesawat, hingga perlengkapan perang untuk menjaga koridor kuning agar
tidak direbut suku lain. Disaat suku-suku lain masih menjadi budak dan
kehidupan serba kekurangan, suku hobeika sudah memiliki penerangan dari tenaga
listrik. Itu semua adalah hasil dari minyak mentah yang selama ini dikuasai
oleh hobeika dan juga bantuan dari para kapitalis amerika yang mulai
mengeksploitasi minyak di arab saudi. Disisi lain situasi ini sangat berbanding
terbalik dengan sebagian suku di arab yang hidup serba kekurangan ditengah
tandusnya gurun pasir, disamping itu suku-suku arab terutama Salmaah memandang
Al-Qur’an sebagai pandangan hidup dan menafsirkannya dengan tradisional dan
terlalu dangkal, hal ini membuat Salmaah memandang hal modern merupakan sesuatu
yang fasik.
Kondisi politik pada masa tersebut masih sangat
tradisional dengan memikirkan kemakmuran antar suku dan cara satu-satunya untuk
bertahan hidup adalah berperang. Dalam hal ini saya lebih menyoroti politik
Emir Nesib dimana dengan kedatangan para provokator dari texas oil membuat Emir
Nesib memiliki akal licik dengan mengingkari perjanjian yang telah disepakati
dengan suku Salmaah mengenai koridor kuning. Emir sangat pandai bermain politik,
untuk memperbesar ‘power’ agar Amar tidak dapat melawannya, Emir Nesib
mengundang seluruh suku di Arab untuk dijamu dan menjadikan mereka semua
saudara dengan menjanjikan keuntungan minyak bagi semua sehingga ketika Amar
menyerang Hobeika Emir berharap seluruh suku dapat membantunya melawan Amar. Emir
nesib, benar-benar menjadi seorang raja. Selain itu untuk menjaga stabilitas
keamanan sukunya dan koridor kuning agar tidak dijarah oleh suku lain, Emir membangun
bala tentaranya lengkap dengan angkatan udara serta hegemoni terhadap suku-suku
di daerah tersebut berjalan sangat lancar tanpa ada kendala karena uang yang
dimilikinya. Dengan semakin luasnya jaringan antar suku dan besarnya
persenjataan milik Hobeika Emir berfikir jika Salmaah akan lebih memilih jalan
perdamaian dalam memperebutkan koridor kuning. Pada masa itu, minyak sangat
mempengaruhi kondisi politik yang ada dimana suku Hobeika mendominasi
keberadaan minyak agar dapat di eksploitasi sebesar-besarnya dan memberikan
jatah kepada suku lain untuk menjaga stabilitas keamanan semata.
No comments:
Post a Comment