11/11/13

Perdebatan Besar Ke-4 dalam Hubungan Internasional dan Kritik Post Positivis



Dalam perjalanan panjang  Studi Hubungan Internasional tentunya tidak lepas dari berbagai perdebatan-perdebatan hingga terciptanya HI sebagai ilmu untuk dipelajari. Dalam SHI terjadi 4 perdebatan besar oleh ilmuan-ilmuan HI dalam perkembangan studi ini atau sering kita sebut the great debate.  Perdebatan besar ini berawal pada abad 20-an namun hingga saat ini belum kunjung usai. Dalam the great debate yang dilakukan para ilmuan-ilmuan SHI hingga saat ini adalah perdebatan antara tradisi – tradisi dalam Hubungan Internasional mempelajari tentang apa dan bagaimana hubungan dalam internasional yang ideal, tentang bagaimana asumsi-asumsi positivis yang sejak awal digunakan oleh filsuf-filsuf sebelum abad 20 hingga munculnya aliran post positivis yang mengusung sebuah perspertif yang berbeda dari aliran positivis. Namun, dalam perdebatan besar ke-4 yang terjadi hingga saat ini bukan mencari siapa yang benar atau yang salah, tetapi lebih membuktikan tentang siapa yang bisa menganalisis dan menjelaskannya serta dapat diterima oleh para pembelajar HI.
Berbeda dengan great debates yang terjadi sebelumnya, dimana great debate 1 yang memperdebatkan antara kaum realis dan liberalis, great debate 2 antara kaum Tradisionalisme dan Behaviorisme, serta great debate 3 tentang Ekonomi Politik Internasional yang dibahas oleh kaum neo-marxisme dan kaum neo-liberalisme dimana pada masa terjadinya great debate tersebut terjadi pada masa  World War 1 hingga Cold War. Dalam perdebatan ke-4 ini  diwarnai dengan isu-isu kontemporer dan metodologi-metodologi ke-HI an serta lebih fokus membahas tentang perspektif-perspektif positivis seperti Liberalism, Marxism, Realism, Neo-Marxism, Neo-Realism, dll. Karena para sarjana-sarjana HI tersebut merasa bahwa teori – teori tersebut sudah tidak cocok dan sesuai dengan isu berkembang yang semakin modern ini. Berawal dari itulah para sarjana-sarjana HI pada masa itu mengkritik terhadap teori-teori dan metodologi kontemporer yang sedang berkembang.
Metodologi Positivis yang merupakan warisan dari para kaum behaviorealis yang lebih mengutamakan nilai ilmiah dan empiris kemudian ditentang oleh aliran baru yang disebut kaum post positivis. Dalam positivis dimana aliran ini sangat kental dengan ajaran-ajaran realis, liberalis, marxis yang kemudian di pertanyakan ke empirisannya oleh kaum post positivis dengan mengusung sebuah teori-teori kritis seperti, feminisme, post modernisme, konstruktivisme, serta teori normatif. Hal inilah yang menjadi tamparan besar kaum positivis. Post positivis adalah sebuah aliran baru dimana memiliki paham yang luas yang dirangkum dalam beberapa metodologi. Aliran post positivis sangat vokal mengkritik asumsi-asumsi kaum positivis dan mempertanyakan kebenaran-kebenaran positivisme yang telah tersusun rapi sejak dulu. Beberapa kritik dari kaum post positivis, yang pertama fakta itu berdasarkan teori, yang kedua tentang falibilitas teori dimana tidak sepenuhnya semua teori dapat dijelaskan secara empiris. Ketiga, fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai.
Keempat, Hasil penelitian tidak selalu objektif, tetapi adalah  hasil interaksi manusia dan alam yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Menurut Gaddis kegagalan teori HI dalam mengantisipasi berakhirnya Perang Dingin disebabkan oleh kelemahan metodologis dan teoritis yang tidak lepas dari aliran positivis[1]. Selain kritik yang dilontarkan oleh para kaum post positivis, terdapat 4 kritik kontemporer pasca-positivisme yakni : Kritik epistemologi yaitu terhadap pemahaman dan fondasi ilmu pengetahuan yang berlaku dalam SHI, kritik ontologis terhadap agenda SHI konvensional, kritik politik keilmuan terhadap sifat otoriter dan represif SHI akibat batas – batas akademik konvensional yang digariskan secara arbitrarily dan, kritik kultural terhadap SHI sebagai bidang studi yang terlalu didominasi oleh AS[2].
Kritik epistemologi menolak keras ilmu pengetahuan dalam SHI berasal dari epistemologi positivisme. SHI menganggap ilmu pengetahuan adalah suatu pemberian, jadi tidak perlu dipersoalkan. Epistemologi positivisme menganggap bahwa realitas eksternal berasal dari faktor luar para penstudi. Namun asumsi ini ditolak oleh pasca positivisme karena mereka menganggap bahwa asumsi “realitas eksternal” adalah sebuah hal yang tanpa dasar yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.
Dalam kritik ontologi membahas tentang pembangunan sebuah Studi Hubungan Internasional secara ilmiah dan bebas nilai dimana diharapkan SHI dapat menjadi ilmu yang konkret. Dengan kata lain bahwa SHI menghasilkan pemahaman ilmiah terhadap dinamika politik internasional.
Selanjutnya, dikritik ketiga dalam politik keilmuan mengklaim bahwa SHI merupakan sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri yang terpisah dari bidang ilmu lain dan bebas dari pengaruh penguasa. Sikap disiplin ini berimplikasi pada karakter SHI yang mandiri.
Di kritik terakhir tentang kultural lebih menstereotipekan SHI sebagai ilmu yang berasal dari AS. Bukan hanya diutarakan oleh ilmuan luar negeri, namun kritik ini juga dilontarkan oleh sarjana dari AS sendiri. Kritik kulural menganggap SHI merupakan alat untuk melanggengkan kekuasaan AS dalam kancah internasional.
Dalam aplikasinya ternyata keempat kritik tersebut memiliki dampak yang kuat terhadap kedudukan SHI sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Kritikan-kritikan tersebut berimplikasi terhadap hakekat bidang HI selama ini. Inilah tantangan para sarjana HI untuk tetap mempertahankan substansi HI yang selama ini di bangun oleh para filsuf-filsuf dan ilmuan HI. Post positivisme mengubah perspektif dunia, bukan hanya objektif melainkian juga secara subjektif. Selain itu yang pada awalnya hanya berasumsi bahwa apa yang kita lihat merupakan apa yang terjadi atau realitas sebenarnya, namun dalam post positivis kita dibentuk untuk melihat dengan kacamata yang lebih luas.

Sukma, Rizal.. Hubungan Internasional Dekade 1990-an: Hegemoni, Dekonstruksi dan Agenda.3-11
[1] [2] Sukma, Rizal.. Hubungan Internasional Dekade 1990-an: Hegemoni, Dekonstruksi dan Agenda.hal.6

No comments:

Post a Comment