3/30/17

Koh Ahok dan Surat Al-Maidah



Terlepas dari semua kontroversi yang ada antara Ahok, Surat al-maidah ayat 51 dan gugatan baliknya kepada penyebar video tersebiut, memang seharusnya ahok tidak menggunakan dasar ayat suci al-qur’an dalam pidatonya tersebut. sebagai satu-satunya calon non-muslim dalam pilgub DKI, isu SARA merupakan isu yang paling sensitif sekaligus strategis untuk diolah. Dalam kacamata saya sebagai seorang muslim, bagaimanapun seorang Ahok tetaplah salah dengan segala pembelaannya, seorang ahok tidaklah memiliki kapasitas sebagai ahli Al-Qur’an ataupun hadist yang shahih dalam menafsirkan makna dari pada ayat-ayat tersebut, ditambah lagi koh ahok bukanlah seorang muslim, ya otomatis hujatan, cacian, makian akan tertuju ke koh ahok yang notabene dianggap sembarangan dengan surat al-qur’an.
Walaupun tanpa repot-repot berpidato di kepulauan seribu dan menyinggung surat al-maidah, tetap saja akan banyak orang nyinyir kafir, dzholim, antek wahyudi, c*na dan lain sebagainya. Nah ini ditambah pake nyatut surat al-maidah lagi, gimana ndak tambah digunjing koh ahok? Kalau kata temen saya yang jurusan politik ini namanya blunder politik, artinya koh ahok yang sekarang ini menjadi calon gubernur petahana kurang berhati-hati dalam mencitrakan dirinya sehingga kekurang hati-hatiannya tersebut dijadikan bola panas untuk menyerang koh ahok. Bagaimana tidak? Dalam pidato tersebut beliau berusaha mencitrakan diri sebagai seorang yang tidak akan mempermasalahkan agama dengan menyinggung oknum-oknum yang jualan ayat, namun malah membuat kesalahan fatal dengan mencatut salah satu surat didalam al-qur’an, gimana ndak blunder kalau kayak gitu? Apalagi koh ahok seorang nasrani pula, Ya setitik nila rusak susu sebelanga jadinya. Mungkin beliau maksudnya baik, menjadi seorang pemimpin yang profesional, adil, tanpa memandang agama apapun, atau mungkin malah sedang kebakaran jenggot karena cagub satunya sedang bertauhid untuk jakarta? *eh. Menanggapi kasus ini pun seharusnya beliau tidak perlu melawan, karena didepan publik ditambah dengan framing media, menjadi orang yang tertindas akan lebih banyak diuntungkan daripada melawan. Apalagi yang dihadapi ini bukan warga miskin yang akan sammina wa’ato’na ketika beliau mengeluarkan bahasa-bahasa khasnya, paling tidak koh ahok harus bisa bermain cantik lah, jangan pakai cara kasar dalam menanggapi isu ini. tidak perlu advokat kotak-kotaknya turun gunung semua dan melaporkan balik si penyebar video, karena respon yang diterima publik pada akhirnya akan beda, dan cenderung memandang beliau menjadi maha benar dengan segala perbuatannya.

Koh ahok merupakan sosok yang sangat unik, jika dulu mungkin beliau ini ibarat nabi pada zaman jahiliyah yang membawa cahaya pencerahan bagi umat jakarta. Kedatangan koh ahok memberikan warna baru dalam konteks pemimpin daerah yang selalu monoton dengan sikap wibawa, tenang, arif, santun mereka. Beliau ini tampil dengan gayanya sendiri dengan pembawaan yang ceplas ceplos, emosional, tegas dan tak segan turun lapangan, ngeri lah pokoknya kalo berhadapan dengan koh ahok ini. Tetapi secara pribadi saya mengacungi jempol dengan kinerja koh ahok menjadi gubernur jakarta selama ini, watak keras beliau ditambah dengan otak cerdasnya dalam mengelola birokrasi membuat jakarta sekarang ini kontras dengan yang dulu, karena memang hari ini dibutuhkan orang-orang yang seperti beliau ini di endonesa. Mungkin hanya perlu modifikasi sedikit lagi agar dapat diterima masyarakat luas. Ya beruntunglah PDI yang berhasil mengusung koh ahok ini, paling enggak elektabilitasnya naik lagi sekaligus untuk pemanasan mesin 2019. Dengan adanya koh ahok di tubuh PDI semakin menambah pula koleksi-koleksi Bu Mega dengan adanya beberapa tokoh yang brilian ditubuh PDI, setelah ada Bu Risma, Pak Ganjar, dan Pak Jokowi. Lihatlah, betapa baiknya Tuhan kepada Bu Mega dengan memberikan tokoh-tokoh revolusioner ditubuh PDI. Ahh.. sudahlah ini hanya gurauan mahasiswa yang sedang sepaneng mengerjakan skripsi, jangan dianggap serius. ehe

No comments:

Post a Comment