3/30/17

China Sebagai Kekuatan Baru di Asia Tengah dalam Ekspansi Energi Melalui Strategi Silk Road Economic Belt

                                      Sumber foto : http://www.iranreview.org/file/cms/files/Silk-Road.jpg

Isu minyak dan gas bukan hanya menjadi penting, namun juga menarik untuk dibahas mengingat bahwa jika terjadi krisis minyak mengakibatkan tersendatnya laju perekonomian. Hal ini kemudian akan memicu terjadinya perebutan sumber-sumber ladang minyak dan gas yang dilakukan oleh negara-negara berbasis industrialis. Perebutan sumber daya alam tersebut merupakan awal dari timbulnya konflik yang terjadi dalam berbagai dimensi dan skala. Roda perekonomian akan tersendat, Negara industrialis akan menghegemoni sumber daya minyak dan gas di negara lain yang memiliki cadangan besar, yang akhirnya akan menimbulkan dampak interdependensi (saling ketergantungan) antar kedua aktor tersebut dalam lingkaran minyak dan gas[2].
Negara-negara industrialis besar yang membutuhkan energi gas dan minyak namun tidak memiliki sumber daya alam yang cukup didalam negaranya sendiri menjadikan suatu dilema, hal inilah yang kemudian membuat negara-negara seperti China melakukan eksplorasi ke negara lain untuk kelangsungan industrinya. Sebagai contoh China yang hari ini menjadi konsumen petroleum terbesar pertama yang telah mengalahkan Amerika Serikat melakukan ekspansi minyak dan gas ke negara-negara Asia Tengah[3]. Menurut data yang penulis peroleh, pada tahun 2013 China menyumbang 22,4% dari total energi yang dikonsumsi dunia. Hal ini  lebih besar dibandingkan Amerika Serikat yang menyumbang 17,8%, atau juga berarti akumulasi dari kedua negara tersebut sudah menyumbang 40% dari total energi yang dikonsumsi seluruh dunia[4]. Sederhananya tingkat pembangunan negara China berbanding lurus dengan konsumsi energi yang tinggi, sehingga berdampak pada cepat lambatnya laju ekonomi dalam ekspor, industri dan urbanisasi.
Maka, jika kemudian krisis energi terjadi pada skala negara tidaklah cukup bagi negara tersebut untuk dapat menanggulangi krisis yang terjadi hanya dengan menggantungkan pada sumber daya alam dari dalam negeri sendiri. Mengingat di era globalisasi ini kondisi antar negara, terutama yang memiliki kedekatan secara geografis, tidak menutup kemungkinan dapat mempengaruhi proses politik dan ekonomi antar negara-negara tersebut.
Selama satu dekade terakhir China secara agresif menggalang kerja sama energi dengan kawasan Asia Tengah yang notabene memiliki simpanan minyak dan gas alam terbesar di dunia disamping memiliki kondisi politik internal kawasan yang stabil[7]. China menjadi aktor pendatang di jazirah Asia Tengah setelah lama dibawah cengkeraman Rusia yang telah membangun kerjasama sejak 1960, dan kemudian kini China memiliki pengaruh besar dikawasan Asia Tengah yang mulai menggeser keberadaan Rusia[8]. Selain itu dalam hubungan kerjasama ini antara China dan Asia Tengah muncul sebuah ketergantungan antar kedua aktor, China ketergantungan dengan Energi dari Asia Tengah, begitupun Asia Tengah yang mulai ketergantungan dengan keberadaan China di kawasan tersebut yang kemudian menggeser posisi Rusia yang telah lama menjadi dominan power. Karena Asia tengah, terutama Kazakhstan dan Turkmenistan telah lama menjadi ladang Gas bagi Rusia untuk kemudian di jual ke Uni Eropa yang selama ini menggantungkan pipa-pipa gas dan minyak dari Rusia.
Kedatangan China di Asia Tengah pada dasarnya tidak jauh-jauh dari kerjasama minyak dan gas, mengingat negara-negara Asia Tengah memiliki cadangan minyak dan gas yang melimpah ruah dan masih sedikit investornya. Inilah yang kemudian menjadi Anomali dimana telah kita ketahui bahwasannya Kazakhstan, Turkmenistan, Kirgiztan, Tajikistan dan Uzbekistan adalah negara pecahan dari Uni Soviet yang secara identitas memiliki kedekatan dengan Rusia, namun dewasa ini posisi Rusia di Asia Tengah semakin pudar dan mulai digantikan dengan keberadaan China. Bahkan pada tahun 2013 dalam kunjungannya di Nazarbayev University , Kazakhstan. Presiden Xi Jin Ping menekankan dalam pidatonya mengenai pentingnya membangun kerjasama ekonomi antara China dan seluruh negara Asia Tengah.[9] Dalam pidatonya tersebut Presiden Xi Jin Ping berusaha untuk membawa romantisme masa lalu dimana jalur sutra kuno menjadi satu-satunya jalur darat yang menghubungkan Asia dan Eropa menciptakan sebuah hubungan dagang dan budaya masyarakat zaman dahulu. Dan situasi ini harus dibangun kembali agar dapat tercipta sebuah kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Xi Jin Ping memberikan istilah Silk Road Economic Belt atau Sabuk Ekonomi Jalur Sutra dalam kerjasama ekonomi ini, Ia menegaskan bahwa dalam kerjasama Ekonomi tersebut merupakan kerjasama persahabatan untuk saling membangun dan menjalin hubungan baik antar negara tetangga.[10] China tidak akan pernah ikut campur urusan internal negara ataupun urusan internal kawasan di Asia Tengah, karena hal ini merupakan masalah internal yang bukan wewenang China untuk ikut campur. Karena bagi negara China, yang menjadi musuh bersama dan harus diperangi adalah isu terorisme, ekstrimisme, dan separatisme.[11]
Dari hal ini kita dapat melihat begitu pentingnya posisi negara-negara Asia Tengah hingga menjadi proyeksi politik luar negeri China yang kemudian dituangkan oleh Pesiden Xi Jin Ping melalui kerjasama Ekonomi yang disebut Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt). Dalam jalinan kerjasama tersebut China berusaha melakukan pendekatan kerjasama ekonomi sebagai negara tetangga yang tidak ingin ikut campur dengan urusan internal negara maupun kawasan. Karena bagi China kawasan Asia Tengah bukan hanya negara tetangga yang memiliki kedekatan secara geografis, ekonomi, keamanan dan politik, melainkan juga sebagai penghubung darat ke negara-negara Timur Tengah dan Eropa melalui pembangunan infrastruktur. Begitupun bagi Asia Tengah, China merupakan potensi pasar yang besar dalam mempromosikan sumber daya alam negara-negara Asia Tengah terutama sumber daya energi yang dimilikinya.
Asia Tengah merupakan kawasan landlocked country dimana seluruh negaranya tidak memiliki laut[12]. Namun kaya dengan sumber daya energi dan sangat beragam, Asia Tengah memiliki cadangan minyak, gas, batubara di masing-masing negara anggotanya[13]. Terdapat 5 negara yang berada di kawasan Asia Tengah yakni Kazakhstan, Kyrgyztan, Tajikistan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Potensi minyak, gas dan batubara banyak terdapat di Kazakhstan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Sedangkan Tajikistan dan Kyrgyztan memiliki potensi energi tenaga air yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.
 Setidaknya Asia Tengah memiliki cadangan sekitar 31 milyar barel atau menyediakan sekitar 2,7% dari total cadangan minyak dunia[14]. Sedangkan untuk gas alam sekitar 11 hingga 12 trilyun meter kubik atau sekitar 7% dari seluruh cadangan gas alam dunia[15]. Dan diperkirakan masih akan bertambah hingga 60 Milyar-140 Milyar dimasa mendatang seiring bertambahnya eksplorasi dikawasan tersebut. Cadangan energi yang cukup besar tersebut didukung oleh kondisi politik negara-negara anggota yang cukup stabil membuat kawasan Asia Tengah banyak dilirik oleh negara-negara industrialis yang tengah melakukan ekspansi energi, tak terkecuali China.
China National Petroleum Corporation (CNPC), China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) dan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) merupakan perusahaan minyak nasional China yang bertanggung jawab terhadap stabilitas pasokan energi negara[16]. Perusahaan minyak raksasa tersebut telah berekspansi sekaligus berinvestasi dibeberapa negara seperti Asia Tengah, Afrika dan Brasil. Dalam ekspansinya perusahaan tersebut tidak hanya melakukan tugasnya untuk mengamankan pasokan energi China, melainkan juga memiliki tanggung jawab untuk membangun infrastruktur hingga pemberian pinjaman untuk pengenbangan dan pembangunan negara[17]. Selain itu pemerintah China menawarkan pinjaman untuk eksplorasi dan produksi kegiatan dan sebagai imbalannya adalah jaminan pengiriman minyak secara berkelanjutan. Dan sebaliknya melalui perusahaan minyaknya juga membantu pemerintah dalam menjaga dan meningkatkan pengaruh strategis di seluruh dunia.
Salah satu organisasi inisiasi China yang berperan penting dalam kerjasama energi adalah Organisasi Kerjasama Shanghai atau dikenal dengan Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang menjadi strategi China untuk melegitimasi kepentingannya di kawasan Asia Tengah, seperti halnya NATO yang digunakan Amerika untuk kepentingannya di Eropa. dengan adanya SCO maka memungkinkan pula China membangun Soft Power dengan negara-negara yang masuk menjadi bagian, baik dalam kerjasama keamanan, ekonomi, politik hingga bud
aya.




[1] Rahman, Maizar. 2004. Oil and Gas : The Engine of the World Economy. http://www.opec.org/opec_web/en/900.htm
[2]
[3] Fazilov, Fakhmiddin. 2014. China’s Energy Security Strategy In Central Asia. http://Chinaincentralasia.com/2014/11/27/Chinas-energy-security-strategy-in-central-asia/
[7]
[8]
[9] President Xi Jinping Delivers Important Speech and Proposes to Build a Silk Road Economic Belt with Central Asian Countries. Ministry of Foreign Affairs, the People's Republic of China. http://www.fmprc.gov.cn/mfa_eng/topics_665678/xjpfwzysiesgjtfhshzzfh_665686/t1076334.shtml
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[13] Central Asia Energy-Water Development Program. http://www.worldbank.org/en/region/eca/brief/caewdp
[14] Jaffe, Amy Myers. Unlocking The Assets: Energy And The Future Of Central Asia And The Caucasus. James A. Baker III Institute For Public Policy.
[15] Ibid.
[16]Chinese inroads into Central Asia: Focus on oil and gas. http://www.siew.sg/topics/chinese-inroads-into-central-asia-focus-on-oil-and-gas
[17]Ibid.

No comments:

Post a Comment