Isu minyak dan gas bukan hanya menjadi penting, namun juga menarik untuk dibahas mengingat bahwa jika terjadi krisis minyak mengakibatkan tersendatnya laju perekonomian. Hal ini kemudian akan memicu terjadinya perebutan sumber-sumber ladang minyak dan gas yang dilakukan oleh negara-negara berbasis industrialis. Perebutan sumber daya alam tersebut merupakan awal dari timbulnya konflik yang terjadi dalam berbagai dimensi dan skala. Roda perekonomian akan tersendat, Negara industrialis akan menghegemoni sumber daya minyak dan gas di negara lain yang memiliki cadangan besar, yang akhirnya akan menimbulkan dampak interdependensi (saling ketergantungan) antar kedua aktor tersebut dalam lingkaran minyak dan gas[2].
Negara-negara industrialis besar yang membutuhkan
energi gas dan minyak namun tidak memiliki sumber daya alam yang cukup didalam
negaranya sendiri menjadikan suatu dilema, hal inilah yang kemudian membuat
negara-negara seperti China melakukan eksplorasi ke negara lain untuk
kelangsungan industrinya. Sebagai contoh China yang hari ini menjadi konsumen
petroleum terbesar pertama yang telah mengalahkan Amerika Serikat melakukan
ekspansi minyak dan gas ke negara-negara Asia Tengah[3]. Menurut
data yang penulis peroleh, pada tahun 2013 China menyumbang 22,4% dari total
energi yang dikonsumsi dunia. Hal ini lebih
besar dibandingkan Amerika Serikat yang menyumbang 17,8%, atau juga berarti akumulasi
dari kedua negara tersebut sudah menyumbang 40% dari total energi yang dikonsumsi
seluruh dunia[4]. Sederhananya tingkat
pembangunan negara China berbanding lurus dengan konsumsi energi yang tinggi,
sehingga berdampak pada cepat lambatnya laju ekonomi dalam ekspor, industri dan
urbanisasi.
Maka, jika kemudian krisis energi terjadi pada skala
negara tidaklah cukup bagi negara tersebut untuk dapat menanggulangi krisis
yang terjadi hanya dengan menggantungkan pada sumber daya alam dari dalam
negeri sendiri. Mengingat di era globalisasi ini kondisi antar negara, terutama
yang memiliki kedekatan secara geografis, tidak menutup kemungkinan dapat
mempengaruhi proses politik dan ekonomi antar negara-negara tersebut.
Selama satu
dekade terakhir China secara agresif menggalang kerja sama energi dengan
kawasan Asia Tengah yang notabene memiliki simpanan minyak dan gas alam terbesar
di dunia disamping memiliki kondisi politik internal kawasan yang stabil[7].
China menjadi aktor pendatang di jazirah Asia Tengah setelah lama dibawah
cengkeraman Rusia yang telah membangun kerjasama sejak 1960, dan kemudian kini
China memiliki pengaruh besar dikawasan Asia Tengah yang mulai menggeser keberadaan
Rusia[8]. Selain
itu dalam hubungan kerjasama ini antara China dan Asia Tengah muncul sebuah
ketergantungan antar kedua aktor, China ketergantungan dengan Energi dari Asia
Tengah, begitupun Asia Tengah yang mulai ketergantungan dengan keberadaan China
di kawasan tersebut yang kemudian menggeser posisi Rusia yang telah lama
menjadi dominan power. Karena Asia tengah, terutama Kazakhstan dan Turkmenistan
telah lama menjadi ladang Gas bagi Rusia untuk kemudian di jual ke Uni Eropa
yang selama ini menggantungkan pipa-pipa gas dan minyak dari Rusia.
Kedatangan
China di Asia Tengah pada dasarnya tidak jauh-jauh dari kerjasama minyak dan
gas, mengingat negara-negara Asia Tengah memiliki cadangan minyak dan gas yang
melimpah ruah dan masih sedikit investornya. Inilah yang kemudian menjadi
Anomali dimana telah kita ketahui bahwasannya Kazakhstan, Turkmenistan,
Kirgiztan, Tajikistan dan Uzbekistan adalah negara pecahan dari Uni Soviet yang
secara identitas memiliki kedekatan dengan Rusia, namun dewasa ini posisi Rusia
di Asia Tengah semakin pudar dan mulai digantikan dengan keberadaan China.
Bahkan pada tahun 2013 dalam kunjungannya di Nazarbayev University ,
Kazakhstan. Presiden Xi Jin Ping menekankan dalam pidatonya mengenai pentingnya
membangun kerjasama ekonomi antara China dan seluruh negara Asia Tengah.[9]
Dalam pidatonya tersebut Presiden Xi Jin Ping berusaha untuk membawa romantisme
masa lalu dimana jalur sutra kuno menjadi satu-satunya jalur darat yang
menghubungkan Asia dan Eropa menciptakan sebuah hubungan dagang dan budaya
masyarakat zaman dahulu. Dan situasi ini harus dibangun kembali agar dapat
tercipta sebuah kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Xi Jin
Ping memberikan istilah Silk Road
Economic Belt atau Sabuk Ekonomi Jalur Sutra dalam kerjasama ekonomi ini,
Ia menegaskan bahwa dalam kerjasama Ekonomi tersebut merupakan kerjasama
persahabatan untuk saling membangun dan menjalin hubungan baik antar negara
tetangga.[10] China tidak akan pernah
ikut campur urusan internal negara ataupun urusan internal kawasan di Asia Tengah,
karena hal ini merupakan masalah internal yang bukan wewenang China untuk ikut
campur. Karena bagi negara China, yang menjadi musuh bersama dan harus
diperangi adalah isu terorisme, ekstrimisme, dan separatisme.[11]
Dari hal
ini kita dapat melihat begitu pentingnya posisi negara-negara Asia Tengah hingga
menjadi proyeksi politik luar negeri China yang kemudian dituangkan oleh
Pesiden Xi Jin Ping melalui kerjasama Ekonomi yang disebut Sabuk Ekonomi Jalur
Sutra (Silk Road Economic Belt).
Dalam jalinan kerjasama tersebut China berusaha melakukan pendekatan kerjasama
ekonomi sebagai negara tetangga yang tidak ingin ikut campur dengan urusan
internal negara maupun kawasan. Karena bagi China kawasan Asia Tengah bukan
hanya negara tetangga yang memiliki kedekatan secara geografis, ekonomi,
keamanan dan politik, melainkan juga sebagai penghubung darat ke negara-negara
Timur Tengah dan Eropa melalui pembangunan infrastruktur. Begitupun bagi Asia
Tengah, China merupakan potensi pasar yang besar dalam mempromosikan sumber
daya alam negara-negara Asia Tengah terutama sumber daya energi yang
dimilikinya.
Asia
Tengah merupakan kawasan landlocked
country dimana seluruh negaranya tidak memiliki laut[12].
Namun kaya dengan sumber daya energi dan sangat beragam, Asia Tengah memiliki
cadangan minyak, gas, batubara di masing-masing negara anggotanya[13].
Terdapat 5 negara yang berada di kawasan Asia Tengah yakni Kazakhstan,
Kyrgyztan, Tajikistan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Potensi minyak, gas dan
batubara banyak terdapat di Kazakhstan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Sedangkan
Tajikistan dan Kyrgyztan memiliki potensi energi tenaga air yang dapat
dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.
China National Petroleum Corporation (CNPC),
China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) dan China National Offshore Oil Corporation
(CNOOC) merupakan perusahaan minyak nasional China yang bertanggung jawab
terhadap stabilitas pasokan energi negara[16].
Perusahaan minyak raksasa tersebut telah berekspansi sekaligus berinvestasi
dibeberapa negara seperti Asia Tengah, Afrika dan Brasil. Dalam ekspansinya
perusahaan tersebut tidak hanya melakukan tugasnya untuk mengamankan pasokan
energi China, melainkan juga memiliki tanggung jawab untuk membangun
infrastruktur hingga pemberian pinjaman untuk pengenbangan dan pembangunan
negara[17].
Selain itu pemerintah China menawarkan pinjaman untuk eksplorasi dan produksi
kegiatan dan sebagai imbalannya adalah jaminan pengiriman minyak secara
berkelanjutan. Dan sebaliknya melalui perusahaan minyaknya juga membantu
pemerintah dalam menjaga dan meningkatkan pengaruh strategis di seluruh dunia.
Salah
satu organisasi inisiasi China yang berperan penting dalam kerjasama energi
adalah Organisasi Kerjasama Shanghai atau dikenal dengan Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang menjadi strategi China
untuk melegitimasi kepentingannya di kawasan Asia Tengah, seperti halnya NATO
yang digunakan Amerika untuk kepentingannya di Eropa. dengan adanya SCO maka
memungkinkan pula China membangun Soft
Power dengan negara-negara yang masuk menjadi bagian, baik dalam kerjasama
keamanan, ekonomi, politik hingga bud
aya.
[1]
Rahman, Maizar. 2004. Oil and Gas : The Engine of the World
Economy. http://www.opec.org/opec_web/en/900.htm
[3]
Fazilov, Fakhmiddin. 2014. China’s Energy
Security Strategy In Central Asia. http://Chinaincentralasia.com/2014/11/27/Chinas-energy-security-strategy-in-central-asia/
[9] President Xi Jinping Delivers
Important Speech and Proposes to Build a Silk Road Economic Belt with Central
Asian Countries. Ministry of Foreign
Affairs, the People's Republic of China. http://www.fmprc.gov.cn/mfa_eng/topics_665678/xjpfwzysiesgjtfhshzzfh_665686/t1076334.shtml
[10] Ibid.
[12]
Landlocked
Countries of Asia.
http://www.mapsofworld.com/asia/thematic/landlocked-countries.html
[13] Central Asia
Energy-Water Development Program. http://www.worldbank.org/en/region/eca/brief/caewdp
[14]
Jaffe, Amy Myers. Unlocking The Assets: Energy And The Future
Of Central Asia And The Caucasus.
James A. Baker III
Institute For Public Policy.
[16]Chinese
inroads into Central Asia: Focus on oil and gas. http://www.siew.sg/topics/chinese-inroads-into-central-asia-focus-on-oil-and-gas

No comments:
Post a Comment